Pada Muhammad nabi-Mu
Ampuni dosaku
Wujudkan harapanku
Ya Rasullallah
Siapa yang cinta pada nabinya
Pasti bahagia dalam hidupnya
Perjalanan ini
Trasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
Disampingku kawan
Banyak cerita
Yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan
Tubuhku terguncang
Dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap
kering rerumputan
Perjalanan ini pun
Seperti jadi saksi
Gembala kecil
Menangis sedih …
Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika di kutanya mengapa
Bapak ibunya tlah lama mati
Ditelan bencana tanah ini
Sesampainya di laut
Kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak
Kepada matahari
Tetapi semua diam
Tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri
Terpaku menatap langit
Barangkali di sana
ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang
Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam batin
Tegaklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat..
Singkirkan debu yang masih melekat..
Anugerah dan bencana adalah kehendakNya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Adalah Dia di atas segalanya..
Adalah Dia di atas segalanya..
Anak menjerit-jerit, asap panas membakar
Lahar dan badai menyapu bersih
Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah
Memang, bila kita kaji lebih jauh
Dalam kekalutan, masih banyak tangan
Yang tega berbuat nista… oh
Tuhan pasti telah memperhitungkan
Amal dan dosa yang telah kita perbuat
Kemanakah lagi kita kan sembunyi
Hanya kepadaNya kita kembali
Tak ada yang bakal bisa menjawab
Mari, hanya tunduk sujud padaNya
Kita mesti berjuang memerangi diri
Bercermin dan banyaklah bercermin
Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini
Berusahalah agar Dia tersenyum… oh
Berubahlah agar Dia tersenyum
jangan bicara soal idealisme
mari bicara berapa banyak uang di kantong kita
atau berapa dahsyatnya
ancaman yang membuat kita terpaksa onani
jangan bicara soal nasionalisme
mari bicara tentang kita yang lupa warna bendera sendiri
atau tentang kita yang buat
bisul tumbuh subur
di ujung hidung yang memang tak mancung
jangan perdebatkan soal keadilan
sebab keadilan bukan untuk diperdebatkan
jangan cerita soal kemakmuran
sebab kemakmuran hanya untuk anjing si Tuan Polan
lihat di sana… di Urip meratap
di teras marmer direktur Mutat
lihat di sana… si Icih sedih
di ranjang empuk waktu majikannya menindih
lihat di sana…. parade penganggur
yang tampak murung di tepi kubur
lihat di sana……. antrian pencuri
yang timbul sebab nasinya dicuri
jangan bicara soal runtuhnya moral
mari bicara tentang harga diri yang tak ada arti
atau tentang tanggung jawab
yang kini dianggap sepi
sampaikanlah pada ibuku
aku pulang terlambat waktu
ku akan menaklukkan malam
dengan jalan pikiranku
sampaikanlah pada bapakku
aku mencari jalan atas
semua keresahan-keresahan ini
kegelisahan manusia
retaplah malam yg dingin
reff: tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka-teki malam
tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka-teki keadilan
berbagi waktu dengan alam
kau akan tahu siapa dirimu yg sebenarnya
hakikat manusia
repeat reff
keadilan, keadilan
* akan aku telusuri
jalan yg setapak ini
semoga kutemukan jawaban
repeat * [3x]
jawaban, jawaban, jawaban, oh o
(*)
Am FM7 Am
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
FM7 Am/D E
Lewati rintang untuk aku anakmu
Am FM7 Am
Ibuku sayang masih terus berjalan
FM7 Am/D E Am
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Am/B C Am/D FM7 Am
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
C Am/D FM7 Am
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
Int : Am Am/C Am/B
Am FM7 Am
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
FM7 Am/D E Am
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Am/B C Am/D FM7 Am
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
C Am/D FM7 Am
Dengan apa membalas…ibu…ibu….
Int : Am FM7 Am7 Am/D
Am C C/B
kembali ke (*)